Kapan Gatal, Perih, dan Kemerahan di Area Intim Harus Dianggap Serius?

radang vagina

Setiap perempuan pasti pernah merasakan ketidaknyamanan di area kewanitaan, seperti rasa gatal, perih, atau kemerahan. Biasanya hal ini muncul sesekali dan bisa hilang dengan sendirinya, terutama jika tubuh sedang lelah, hormon berubah, atau area tersebut terlalu lembap.

Namun, ketika gejalanya berlangsung lebih lama dan disertai rasa panas atau nyeri, bisa jadi itu tanda awal radang vagina yang perlu diperhatikan lebih serius. Mengetahui kapan kondisi ini masih tergolong normal dan kapan harus waspada sangat penting agar tidak berkembang menjadi infeksi yang lebih parah.

  1. Gejala tidak membaik setelah tiga hari
    Jika rasa gatal atau perih di area kewanitaan tidak berkurang setelah tiga hari, meskipun sudah menjaga kebersihan dan mengganti pakaian dalam lebih sering, bisa jadi tubuh sedang mengalami reaksi yang lebih dalam. Area intim memiliki keseimbangan flora alami yang mudah terganggu, dan ketika bakteri baik berkurang, jamur atau bakteri jahat bisa tumbuh berlebih. Hal ini bisa memicu peradangan, keputihan tidak normal, hingga sensasi terbakar saat buang air kecil.
  2. Disertai cairan yang berubah warna atau berbau
    Cairan alami di area kewanitaan seharusnya tidak memiliki aroma tajam dan berwarna bening hingga agak putih. Namun, jika warnanya mulai kekuningan, kehijauan, atau berbau tidak sedap, itu bisa menandakan adanya pertumbuhan bakteri atau jamur berlebih. Kondisi ini sering kali muncul bersamaan dengan rasa perih dan gatal. Hindari penggunaan sabun pewangi atau cairan pembersih beraroma kuat karena bisa memperparah iritasi.
  3. Muncul setelah menggunakan produk tertentu
    Beberapa produk harian seperti sabun mandi, tisu basah, deterjen pakaian, atau bahkan pembalut berpewangi bisa memicu reaksi pada kulit sensitif di area intim. Jika rasa perih atau kemerahan muncul setelah mengganti merek sabun atau pembalut, kemungkinan besar kulit sedang bereaksi terhadap bahan kimia atau parfum di dalamnya. Jadi sebaiknya kembali ke produk tanpa pewangi atau hypoallergenic.
  4. Terjadi setelah masa menstruasi atau hubungan intim
    Area kewanitaan cenderung lebih sensitif setelah menstruasi karena pH alami dan kelembapannya sedang menyesuaikan kembali. Jika setelah masa tersebut muncul rasa gatal, panas, atau kemerahan, mungkin ada mikro luka kecil atau reaksi terhadap gesekan dan kelembapan yang berlebih. Begitu juga setelah berhubungan intim, terutama jika tanpa pelumas atau terjadi gesekan yang terlalu keras.
  5. Disertai gejala lain seperti nyeri perut bawah atau demam ringan
    Ketika gatal dan perih di area kewanitaan tidak berdiri sendiri tetapi disertai nyeri di perut bawah, rasa pegal di pinggang, atau demam ringan, itu bisa jadi tanda infeksi yang mulai menyebar ke bagian dalam saluran reproduksi. Dalam kondisi ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan tenaga medis.

Menjaga area kewanitaan tetap bersih, kering, dan memiliki sirkulasi udara yang baik sangat penting untuk mencegah masalah kulit maupun infeksi. Jika gejala gatal, perih, dan kemerahan muncul kembali secara berulang, jangan anggap sepele.

Jika kalian memiliki keluhan atau ingin berkonsultasi, kalian juga dapat berkunjung ke Ask Dr. Laurier di https://menstruasi.com/ask-drlaurier.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *